Sakral dan Penuh Makna, Upacara Ngaben Ki POLOG Digelar di Desa Darma Agung, Lampung Tengah
Lampung Tengah – Suasana haru dan khidmat menyelimuti pelaksanaan upacara Ngaben yang digelar pada Sabtu, 19 Juli 2025, di Desa Darma Agung, Kecamatan Seputih Mataram, Kabupaten Lampung Tengah. Acara ini merupakan bentuk penghormatan terakhir kepada sosok yang dikenal luas di masyarakat dengan panggilan Ki POLOG, alm. Ayah dari I Wayan Sumadra, Kaur Keuangan di Kampung Bumi Dipasena Utama.
Upacara ini diprakarsai oleh keluarga besar, khususnya oleh putra beliau, I Wayan Sumadra, bersama keluarga dan kerabat. Ngaben bukan hanya prosesi adat, tetapi juga ritual spiritual umat Hindu untuk menyucikan roh dan membebaskannya dari ikatan duniawi, sebagai jalan menuju alam kelahiran kembali atau moksha (pembebasan).
Rangkaian Prosesi Suci
Upacara diawali dengan ritual penyucian simbolis roh (Nyiramang Layon) oleh keluarga inti. Air suci, doa, dan kidung spiritual dipanjatkan dengan penuh penghayatan, menjadi simbol cinta terakhir kepada almarhum.
Tahapan dilanjutkan dengan upacara panyekeban, yaitu pembacaan doa dan mantra suci oleh dua orang Pedanda yang duduk di atas bale upacara. Keduanya tampil khidmat dalam balutan busana suci dan mahkota adat, memimpin jalannya prosesi dari awal hingga akhir.
Di atas bale upacara yang dihiasi dengan kain kuning-putih—lambang kesucian dan keselarasan hidup—terdapat berbagai sarana upacara, seperti: kendi, tirta, canang, sesajen, dan perlengkapan pemujaan. Semua elemen ini disusun dengan sangat rapi, menunjukkan kesungguhan keluarga dan masyarakat dalam menghormati almarhum.
Kemudian dilaksanakan Ngaturang Saji, yakni persembahan doa dan sesajen kepada roh leluhur dan para dewa, yang disertai dengan nyanyian kidung suci serta pembakaran dupa. Di tahap akhir, dilakukan simbolisasi pembakaran roh sebagai pelepasan dari alam dunia.
Ki POLOG: Sosok Dihormati dan Dicintai Masyarakat
Almarhum Ayah dari I Wayan Sumadra (Ki POLOG) dikenal sebagai pribadi yang bersahaja, bijaksana, dan aktif dalam kegiatan adat di Desa Darma Agung. Kehilangan beliau meninggalkan duka mendalam, namun juga menjadi momentum penghormatan bagi jasa-jasa dan nilai yang telah beliau wariskan.
“Upacara ini adalah bentuk cinta dan penghormatan kami kepada ayah. Semoga roh beliau tenang dan mendapat tempat terbaik di sisi-Nya,” ujar I Wayan Sumadra, dengan mata berkaca-kaca.
Pelestarian Budaya dan Nilai Spiritual
Warga Desa Darma Agung tampak bergotong royong sejak persiapan hingga puncak acara. Kehadiran anak-anak muda, tokoh adat, serta para tetua menjadi bukti bahwa warisan budaya leluhur tetap dijaga dan diwariskan lintas generasi.
Upacara ini menjadi lebih dari sekadar ritual keluarga—ia adalah bagian dari identitas budaya Hindu Bali, bentuk pengabdian spiritual, sekaligus pembelajaran nilai-nilai luhur bagi seluruh masyarakat.
Upacara Ngaben Ki POLOG tidak hanya menjadi penghormatan kepada satu jiwa yang berpulang, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya kesucian hidup, cinta keluarga, dan pelestarian budaya.
AS/IAW
Tinggalkan Komentar
Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh admin